depan
  • Home
  • SenBud
  • Tembilahan dan Pasar Wadai Ramadan 2015

Tembilahan dan Pasar Wadai Ramadan 2015

Rabu, 16 September 2015 | 22:51:49

Beritainhil.COM TEMBILAHAN – Selama bulan Ramadan hampir seluruh wilayah Indonesia terdapat tempat yang menggelar pasar takjil Ramadan. Secara umum pasar takjil diartikan sebagai tempat yang menjual aneka makanan dan minuman untuk berbuka puasa.

Lokasi untuk menggelar pasar takjil sendiri biasanya bervariasi. Ada yang sudah dipersiapkan sebelum bulan puasa di lokasi yang telah ditentukan, ada pula yang menggelar dagangan secara dadakan di pinggir jalan.

Umumnya orang membeli takjil karena tidak sempat menyiapkan menu berbuka puasa, dan sebagian lagi untuk menambah sajian berbuka puasa yang telah ada, karena aneka makanan dan minuman yang dijajakan di pasar takjil sangat bervariasi yang kesemuanya dapat mengundang selera.

Di Indonesia sendiri terdapat beberapa istilah dan sebutan populer untuk berburu takjil ini, misalnya di daerah Jawa Barat yang dikenal dengan istilah ngabuburit, dan pasar wadai yang populer di Kalimantan Selantan, khususnya di kota Banjarmasin.

Sementara di provinsi Riau, khususnya di kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), terutama di kota Tembilahan terdapat pasar takjil yang cukup menarik kerena sebutan dan beberapa sajiannya sama dengan pasar wadai yang ada di kota Banjarmasin.

Wadai adalah sebutan masyarakat Banjar untuk kue. Namun di pasar wadai tidak hanya kue yang menjadi ciri khas yang dijajakan, misalnya kue amparan tatak, pais pisang, pais waloh, sinduk lawang, bahulu barandam, dan lain-lain, tetapi berbagai menu selain kue juga dijual, misalnya lauk ayam masak merah, soto banjar, gangan bekaruh, gangan waloh, serta berbagai aneka minuman lainnya.

Hampir setiap jelang berbuka biasanya warga Tembilahan mulai ramai mendatangi pasar wadai. Antusiasme warga memasuki minggu ke-2 pelaksanaan ibadah puasa juga cukup tinggi untuk berburu kuliner di pasar wadai Tembilahan.

Rina Afriana (33), seorang warga Tembilahan dari suku Banjar yang berbelanja di pasar wadai Jalan Telaga Biru, Tembilahan, Kamis (25/6/2015), kepada Riauposting.com menjelaskan, “meski pasar wadai merupakan tradisi yang dibawa masyarakat suku Banjar ke Inhil, namun pasar wadai telah lama menyatu dengan masyarakat Inhil dan telah menjadi ciri khas masyarakat Tembilahan pada umumnya,” ujar ibu muda ini yang juga berprofesi sebagai guru di salah satu sekolah Madrasah Aliyah swasta di Tembilahan.

Lebih lanjut Rina menyampaikan,‘’Sayang lokasi pasar wadai saat ini sudah tersebar kebeberapa tempat, tidak seperti dulu yang terpusat di lapangan dan sekitar alun-alun kota Tembilahan, sehingga pasar wadai yang telah menjadi ciri khas kota Tembilahan, di bulan puasa ini terlihat tidak lagi sesemarak dulu, akibat lokasinya yang terpecah-pecah, padahal pasar wadai ini bisa dijadikan agenda potensi wisata tahunan bagi kota Tembilahan, seperti yang dikelola oleh pemda provinsi Kalimantan Selatan” katanya.

pasar wadai tbh 1

Rina, salah satu pengunjung yang tengah berbelanja di pasar wadai Jalan Telaga Biru, Tembilahan. Foto: Riauposting.com

Sementara itu Saripah (40), salah satu pedagang pasar wadai Ramadan di Jalan Telaga Biru menuturkan jumlah pembeli tidak sebanyak waktu pasar wadai masih berlokasi di satu tempat dilapangan kota Tembilahan. “Selama saya berjualan wadai di bulan puasa, pendapatan yang diperoleh tahun ini terasa cukup jauh berkurang, mungkin ini karena banyaknya lokasi yang menggelar pasar wadai, jadi jumlah pengunjung pun ikut menyebar, padahal harga wadai yang ditawarkan terhitung sangat murah, masih ada wadai yang harganya cuma Rp500 perpotongnya, seperti kue sinduk lawang, pais waloh dan bolu barandam,“ ungkapnya.

Saripah berharap lokasi pasar wadai di bulan puasa mendatang dapat di atur kembali oleh pemerintah, sehingga para pengunjungi bisa terkonsentrasi di satu tempat, selain itu semarak pasar wadai bisa kembali dirasakan seperti dahulu.

Menurut sejarah, masyarakat suku Banjar telah lama menyatu dengan masyarakat melayu Inhil. Migrasi suku Banjar dari daerah asal di Banjarmasin, Kalimantan Selatan ke Inhil tidak diketahui secara persis, namun diperkirakan sekitar tahun 1885 di masa pemerintahan Sultan Isa, raja Indragiri sebelum raja yang terakhir.

Berdasarkan catatan kependudukan tahun 2014, terdapat sekitar 40 persen populasi masyarakat suku Banjar di wilayah Kabupaten Inhil. Kota Tembilahan yang merupakan ibu kota kabupaten Inhil menjadi salah satu sentra terbanyak yang di huni oleh masyarakat suku Banjar. Tak heran pengaruh kultur masyarakat Banjar cukup kental terasa di arena pasar wadai tersebut.

Semoga harapan warga kota Tembilahan agar pasar wadai yang telah menyumbang warna budaya bagi ciri khas kota Tembilahan dapat terus dilestarikan dan disikapi lebih lanjut oleh pemerintah.


BERITA LAINNYA
Five Minutes Akan Manggung di Tembilahan
Senin, 16 November 2015 | 20:53:10
Permainan Pantulan digelar saat Idul Adha
Sabtu, 26 September 2015 | 16:34:26
Tembilahan dan Pasar Wadai Ramadan 2015
Rabu, 16 September 2015 | 22:51:49
Manongkah Kerang Tradisi Masyarakat Suku Duano
Rabu, 16 September 2015 | 22:36:57
IPPMBR: Budaya Suku Banjar di Inhil Bakal Bangkit
Rabu, 16 September 2015 | 22:22:48
BERIKAN KOMENTAR