banner_header 728 x 90
besar bawah menu
Loading...
  • Home
  • SenBud
  • Ternyata Pengobatan Yang Sering Kita Lakukan adalah Pengobatan Dukun Yang dilarang Agama
Bagaimana Hukumnya Berobat Ke Dukun?

Ternyata Pengobatan Yang Sering Kita Lakukan adalah Pengobatan Dukun Yang dilarang Agama

Jangan Sampai Salah, Inilah Perbedaan Pengobatan Syariah dan Dukun
Selasa, 31 Juli 2018 | 21:29:00

Kesehatan merupakan salah 1 di antara banyaknya nikmat Allah SWT dan sering dilupakan manusia. Rasulullah SAW bersabda, ”Ada 2 nikmat yang sering kali memperdaya kebanyakan manusia, yaitu nikmat kesehatan dan nikmat kelapangan waktu” (HR. Bukhari).

Dan tidaklah seseorang merasakan arti penting nikmat sehat kecuali setelah jatuh sakit. Kesehatan adalah nikmat yang sangat agung dari Allah Ta’ala di antara sekian banyak nikmat. Berbicara mengenai kesehatan tentu selaras dengan penyakit dan pengobatannya.

Seorang yang sakit diperbolehkan untuk berobat agar sembuh dari penyakitnya. Setiap muslim seharusnya meyakini bahwa Allah-lah yang menurunkan penyakit dan Dia pula yang menurunkan obatnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا اَنْزَلَ اللهُ دَاءً إِلَّا اَنْزَلَ لَهُ شِفَاءً

“Allah tidak menurunkan penyakit melainkan pasti menurunkan obatnya.” (HR. Al-Bukhari dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)

Di indonesia sendiri banyak jalan seseorang dalam mencari kesembuhan dari suatu penyakit, ada yang berbentuk syariah dan ada yang masih banyak percaya dengan dukun.

Berikut ini 10 perbedaan pengobatan syariah dengan pengobatan dukun

Bagaimana Hukumnya Berobat Ke Dukun?

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda: “Barangsiapa mendatangi peramal lalu bertanya kepadanya tentang sesuatu, maka tidak diterima shalatnya selama 40 hari.” (HR. Muslim dalam Shahihnya).

Dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa mendatangi peramal atau dukun lalu mempercayai apa yang dikatakannya, maka ia telah kafir kepada apa yang diturunkan kepada Muhammad.”

Dalam pengambilan sebab atau cara untuk mendapatkan kesembuhan haruslah memenuhi tiga syarat berikut agar tidak terjatuh dalam kesyirikan:

1. Sebab yang diambil harus terbukti secara syar’i maupun qodari

Secara syar’i maksudnya terdapat dalil dalam Al Qur’an dan hadits yang menyebutkan bahwa sebab tersebut dapat digunakan sebagai sarana penyembuhan.

Misalnya: membacakan ayat-ayat Al Qur’an sebagai terapi penyembuhan orang yang kerasukan jin, madu sebagai sarana pengobatan sakit demam, dan lain sebagainya.

Adapun secara qodari adalah sudah menjadi sunnatullah, atau pengalaman, atau terbukti melalui penelitian ilmiah bahwa sebab tersebut dapat digunakan sebagai terapi penyembuhan. Contohnya adalah penggunaan obat-obatan kimiawi untuk mencegah atau mengobati penyakit tertentu.

Pengambilan sebab secara qodari ini dapat dibagi menjadi dua jenis hukum: halal dan haram. Yang pertama adalah sebab yang halal misalnya parasetamol dan kompres air hangat untuk meredakan demam. Adapun sebab yang haram misalnya penggunaan enzim pankreas babi dan cangkok organ babi untuk pengobatan pada manusia.

Seseorang yang menetapkan sesuatu sebagai sebab, sementara Allah Ta’ala tidak menetapkannya sebagai sebab, baik syar’i maupun qodari, berarti dia telah menjadikan dirinya sekutu bagi Allah dalam hukum terhadap sesuatu (Syaikh Muhamad bin Shalih Al Utsaimin, Syarah Kitab Tauhid Jilid I).

2. Hati tetap bersandar pada Allah Ta’ala, bukan pada sebab

Maksudnya, ketika mengambil sebab, hatinya senantiasa bertawakkal dan memohon pertolongan pada Allah Ta’ala demi berpengaruhnya sebab tersebut.

Hatinya tidak condong kepada sebab tersebut sampai-sampai merasa tenang kepada sebab, bukan kepada Allah. Apabila seseorang merasa pasti akan berhasil tatkala telah memperhitungkan segala sesuatunya, maka ada padanya indikasi bahwa hatinya telah bersandar kepada sebab, bukan kepada Allah Ta’ala.

Hal tersebut juga dapat diindikasikan ada pada diri orang yang sangat kecewa berat atas sebuah kegagalan padahal orang itu merasa telah mengambil atau mengerjakan sebab dengan sebaik-baiknya.

3. Harus tetap memiliki keyakinan bahwa berpengaruh atau tidaknya sebuah sebab hanya Allah Ta’ala yang mentakdirkannya, betapapun keampuhan sebab tersebut.

Artinya, jika Allah Ta’ala menghendaki untuk berpengaruh, maka akan dapat memberikan pengaruh sejalan dengan sunnatullah. Akan tetapi, jika Allah Ta’ala menghendakinya untuk tidak berpengaruh, maka tidak akan memberikan pengaruh apapun. Contohnya : api besar sunnatullahnya akan mampu membakar siapa saja. Namun tatkala Allah Ta’ala menghendaki lain, maka api tersebut menjadi dingin sebagaimana dalam kisah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam.

Demikian sedikit pembahasan mengenai hal-hal yang harus diperhatikan seorang muslim ketika harus melakukan pengobatan. Akidah yang benar dan bersih dari kesyirikan lebih utama daripada kesembuhan karena akidah yang lurus itulah sumber kebahagiaan dunia dan akhirat.

Selaku Muslim baiknya mesti berhati-hati menyikapi fenomena pengobatan alternatif yang ramai di tengah masyarakat sebab diantaranya ada yang mengandung unsur kesyirikan.

Semoga ulasan ini menjadi penambah pengetahuan kita dan bermanfaat..

Wallahu Al Muwaffiq (Dan Allah-lah Yang Maha Pemberi Taufik).





BERITA LAINNYA
Loading...
MENAKUTKAN.. Kamera CCTV Rekam Wanita Disetubuhi Jin
Minggu, 5 Agustus 2018 | 12:26:19
Five Minutes Akan Manggung di Tembilahan
Senin, 16 November 2015 | 20:53:10
Permainan Pantulan digelar saat Idul Adha
Sabtu, 26 September 2015 | 16:34:26
Tembilahan dan Pasar Wadai Ramadan 2015
Rabu, 16 September 2015 | 22:51:49
Manongkah Kerang Tradisi Masyarakat Suku Duano
Rabu, 16 September 2015 | 22:36:57
BERIKAN KOMENTAR
loading...