banner_header 728 x 90
besar bawah menu
Loading...
  • Home
  • Kabar Inhil
  • Ketua DPRD Inhil: Kalau Terus Dibiarkan, 10 Tahun Mendatang Inhil Tak Lagi Jadi Negeri Hamparan Kelapa Dunia

Ketua DPRD Inhil: Kalau Terus Dibiarkan, 10 Tahun Mendatang Inhil Tak Lagi Jadi Negeri Hamparan Kelapa Dunia

Minggu, 5 Agustus 2018 | 12:21:43

TEMBILAHAN - Kabupaten Indragiri Hilir merupakan salah satu penghasil kelapa terbesar di Indonesia. Tak hanya itu, hampir separuh masyarakat Inhil mengantungkan hidupnya pada perkelapaan, baik berkebun atau pengolahan.

Tapi sayangnya hal itu lantas tak membuat petani mampu sejahtera, bahkan ironi perkebunan kelapa di Kabupaten Inhil tampak tidak ada habisnya. 

Mulai dari kerusakan lahan, tanaman tidak menghasilkan atau rusak hingga fluktuasi harga jual kelapa pada hulu sektor perkebunan kelapa yang menjadi tumpuan mayoritas masyarakat Inhil.

Dilihat dari sisi produktifitas, persoalan tanaman tidak menghasilkan tentunya akan sangat menpengaruhi, khususnya dari segi pendapatan masyarakat yang berprofesi sebagai pekebun kelapa.


Kelapa merupakan tanaman yang mempunyai kegunaan hampir di setiap bagian anatominya, dan produktif mencapai usia 60 tahun. Di usia lebih dari 60 tahun, produksi kelapa akan turun dengan sendirinya atau bahkan tidak berproduksi lagi yang berarti pohon kelapa tidak lagi menghasilkan buah.

Dari data yang dihimpun, tercatat pada Dinas Perkebunan hingga tahun 2016, terdapat 94.198 hektare lahan perkebunan kelapa yang tidak menghasilkan dan mengalami kerusakan.

Sementara perluasan lahan perkebunan kelapa dalam tidak menghasilkan dan mengalami kerusakan yang terus terjadi sejak tahun 2014. Totalnya pun tidak main-main mencapai angka ribuan hektare setiap tahunnya.

"Sangat memprihatinkan bagi kita, kalau terus dibiarkan, maka bukan tidak mungkin 10 atau 20 tahun kedepan Inhil tidak lagi dikenal dengan predikat daerah dengan hamparan kelapa terluas di dunia," kata Ketua DPRD Inhil, H. Dani M Nursalam.

Dani memprediksi, terburuk dalam jangka panjang adalah industri lokal pengolahan kelapa akan mengalami collapse karena terganggunya kebutuhan pasokan kelapa sebagai bahan baku.

Dari sisi produksi, Dani juga mengungkapkan, produksi kelapa dalam juga terus menurun meski tidak signifikan. Di tahun 2014, produksi rata-rata kelapa dalam Kabupaten Inhil mampu menyentuh angka 2.829 kilogram per hektare. Sedangkan, dari data terakhir yang diterima, untuk tahun 2016 angka tersebut menurun pada level 2.605 kilogram per hektare.

Ketua DPRD Inhil ini juga menyebutkan, untuk mengatasi problema tanaman kelapa yang tidak lagi menghasilkan buah ini, perlu segera dilakukan langkah peremajaan. 

"Banyak metode yang bisa diterapkan dalam penanganan kasus perkebunan kelapa kita ini. Tinggal lagi niat untuk menanganinya, ada atau tidak," tukas H. Dani M Nursalam.

Dani juga menuturkan, metode peremajaan yang dianjurkan adalah tebang bertahap 20% per tahun . Metode tebang bertahap sebesar 20% per tahun, imbuhnya, merupakan alternatif paling tepat untuk diterapkan ditinjau dari segi agronomis dan pendapatan petani.

Dani menjelaskan, metode peremajaan kelapa tebang bertahap dapat dilakukan sambil menerapkan jarak tanam baru, yaitu  6 m x 16 m sistem pagar.

"Penerapan metode ini juga memungkinkan pengusahaan tanaman sela di antara kelapa. Dengan demikian pendapatan petani tidak terputus, karena selain buah kelapa dari pohon yang belum ditebang, juga dari produksi tanaman sela," jelas Dani secara detil.

Menurutnya, keuntungan penerapan metode tebang bertahap sebesar 20 % per tahun ini adalah keberhasilan yang terukur. Dimana, indikator keberhasilan dapat dilihat langsung dari bertumbuhnya jumlah tanaman kelapa yang baru dengan produktifitas lebih dari 30 butir kelapa/pohon/tahun.

"Karena kalau kurang dari pada jumlah itu, maka dapat dikategorikan bahwa sebuah tanaman kelapa tersebut tidak produktif, tidak menghasilkan atau tanaman kelapa tua," ungkapnya

Lebih lanjut, Dani mengestimasikan, dengan berbasis pada data Dinas Perkebunan Inhil, hasil penerapan metode peremajaan tersebut akan berimbas pada kenaikan tingkat produksi kelapa yang sebelumnya berjumlah sekitar 299,7 juta kilogram per tahun menjadi 412,4 juta kilogram per tahunnya dengan catatan tidak terjadi lagi kerusakan dan penuaan pada tanaman kelapa dalam tahun produksi.

"Tentu ini merupakan kemaslahatan bagi para petan kelapa. Meningkatnya jumlah produksi akan semakin membuka peluang untuk memperoleh keuntungan dari hasil penjualan kelapa yang pada akhirnya akan berdampak positif pada tingkat kesejahteraan mereka," tandas pria bersuku Bugis tersebut


BERITA LAINNYA
Loading...
Defisit Anggaran, Edi Sindrang : TAPD Jangan Lalai
Senin, 13 Agustus 2018 | 23:35:18
BERIKAN KOMENTAR
loading...